Rabu, 17 Oktober 2012

ETIKA BISNIS DALAM BERBISNIS



 NAMA   : SISCA RIA F
NPM      : 16209754
KELAS  : 4 EA17
TUGAS  : SOFTSKILL ETIKA BISNIS 




ETIKA BISNIS DALAM BERBISNIS

Apabila moral merupakan sesuatu yang mendorong orang untuk melakukan kebaikan etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dunia bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi.
Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya. Mengapa ?
Dunia bisnis, yang tidak ada menyangkut hubungan antara pengusaha dengan pengusaha, tetapi mempunyai kaitan secara nasional bahkan internasional. Tentu dalam hal ini, untuk mewujudkan etika dalam berbisnis perlu pembicaraan yang transparan antara semua pihak, baik pengusaha, pemerintah, masyarakat maupun bangsa lain agar jangan hanya satu pihak saja yang menjalankan etika sementara pihak lain berpijak kepada apa yang mereka inginkan. Artinya kalau ada pihak terkait yang tidak mengetahui dan menyetujui adanya etika moral dan etika, jelas apa yang disepakati oleh kalangan bisnis tadi tidak akan pernah bisa diwujudkan. Jadi, jelas untuk menghasilkan suatu etika didalam berbisnis yang menjamin adanya kepedulian antara satu pihak dan pihak lain tidak perlu pembicaraan yang bersifat global yang mengarah kepada suatu aturan yang tidak merugikan siapapun dalam perekonomian.
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah :
1.      Pengendalian diri
Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain dan menggunakan keuntungan dengan jalan main curang dan menakan pihak lain dan menggunakan keuntungan tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etis".
2.      Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.
3.      Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
Bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.
4.      Menciptakan persaingan yang sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut.
5.      Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan"
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.
6.      Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.
7.      Mampu menyatakan yang benar itu benar
Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi" serta memberikan "komisi" kepada pihak yang terkait.
8.      Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah
Untuk menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.
9.      Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu.
10.  Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
Jika etika ini telah memiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.
11.  Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan
            Hal ini untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap pengusaha lemah.
Contohnya :
Perubahan perdagangan dunia menuntut segera dibenahinya etika bisnis agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Langkah apa yang harus ditempuh? Didalam bisnis tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan segala cara. Bahkan tindakan yang berbau kriminal pun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan. Kalau sudah demikian, pengusaha yang menjadi pengerak motor perekonomian akan berubah menjadi binatang ekonomi.
Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis tampaknya tidak menampakan kecenderungan tetapi sebaliknya, makin hari semakin meningkat. Tindakan mark up, ingkar janji, tidak mengindahkan kepentingan masyarakat, tidak memperhatikan sumber daya alam maupun tindakan kolusi dan suap merupakan segelintir contoh pengabdian para pengusaha terhadap etika bisnis.
Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan dengan orang-orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur, pemakai dan lain-lain.
Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung.
Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubungan yang bersifat interaktif. Hubungan ini tidak hanya dalam satu negara, tetapi meliputi berbagai negara yang terintegrasi dalam hubungan perdagangan dunia yang nuansanya kini telah berubah. Perubahan nuansa perkembangan dunia itu menuntut segera dibenahinya etika bisnis. Pasalnya, kondisi hukum yang melingkupi dunia usaha terlalu jauh tertinggal dari pertumbuhan serta perkembangan dibidang ekonomi. Jalinan hubungan usaha dengan pihak-pihak lain yang terkait begitu kompleks. Akibatnya, ketika dunia usaha melaju pesat, ada pihak-pihak yang tertinggal dan dirugikan, karena peranti hukum dan aturan main dunia usaha belum mendapatkan perhatian yang seimbang.
Salah satu contoh yang selanjutnya menjadi masalah bagi pemerintah dan dunia usaha adalah masih adanya pelanggaran terhadap upah buruh. Hal lni menyebabkan beberapa produk nasional terkena batasan di pasar internasional. Contoh lain adalah produk-produk hasil hutan yang mendapat protes keras karena pengusaha Indonesia dinilai tidak memperhatikan kelangsungan sumber alam yang sangat berharga.

Rabu, 13 Juni 2012

ABSTRAK


ABSTRAK

NAMA           : SISCA RIA F
NPM               : 16209754
KELAS          : 3 EA17

Definisi  abstrak
            Abstrak adalah suatu metode informasi yang disajikan dalam laporan atau karya ilmiah, yang ditulis secara teknis dengan tujuan agar pembaca segera mengetahui isi yang ditulis secara singkat.
            Abstrak, menurut American National Standards Institute (1979), definisi abstrak adalah representasi dari isi dokumen yang singkat dan tepat. Sedangkan menurut definisi umum, abstrak merupakan bentuk ringkas dari isi suatu dokumen yang terdiri atas bagian-bagian penting dari suatu tulisan, dan mendeskripsikan isi dan cakupan dari tulisan. Abstrak berfungsi untuk menjelaskan secara singkat kepada pembaca tentang apa yang terdapat dalam suatu tulisan. Pada umumnya abstrak diletakkan pada bagian awal sebelum bab-bab penguraian.
Dua konsep utama dalam membuat abstrak :
a.       Conciseness
b.      Significance
Fungsi / Tujuan abstrak :
1.      Current awareness : memudahkan para pembaca untuk mendapatkan informasi terbaru tentang suatu bidang yang diminati, tanpa harus membaca seluruh isi dokumen.
2.      Menghemat waktu pembaca
3.      Melanjutkan membaca atau tidak ?
4.      Menghindari terjadi duplikasi tulisan
  1. Keyword : memudahkan dalam penyimpanan secara elektronis
Dalam menyusun atau menulis sebuah abstrak, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini :
  • Tujuan (Purpose)
o   Apa alasan penulis ?
o   Apa ide utama (main idea) dari penulis ?
  • Cakupan (Scope)
o   Apa yang menjadi fokus penulis ?
o   Dimana yang menjadi konsentrasi dari penulis ?
  • Metode (Method)
o   Jenis-jenis temuan yang ditampilkan penulis ?
o   Bagaimana penulis meyakinkan pembaca tentang validitas dari ide utamanya ?
  • Hasil (result)
o   Apa konsekuensi dari permasalahan atau isu yang didiskusikan penulis ?
  • Rekomendasi (recommendations)
o   Apa solusi yg ditawarkan penulis ?
o   Apakah penulis merekomendasikan perubahan atau aksi tertentu ?
  • Kesimpulan (conclusions)
o   Apakah penulis menggambarkan hubungan “cause & effect” ?
·         Apa kesimpulan yang dibuat oleh penulis dari studi yang dilakukannya

 Contoh abstrak
Judul Penulisan Ilmiah “PENGARUH BIAYA PROMOSI TERHDAPA JUMLAH SISWA DI SMK JAYAWISATA-2”

ABSTRAK

            Dalam perkembangan dunia pendidikan banyak bermunculan sekolah menengah kejuruan swasta yang baru, sehingga menciptakan persaingan semakin ketat. Untuk memenangkan persaingan yang ketat tersebut, kegiatan promosi sangatlah penting dalam upaya untuk meningkatkan jumlah siswa.
            Dalam menganalisis data digunakan analisa statistika dengan uji regresi linear sederhana. Menurut hasil perhitungan dari hasil koefisien regresi linear sederhana adalah 0,79 bertanda positif, sedangkan koefisien determinasinya sebesar 62% berarti kegiatan promosi meningkatkan jumlah siswa sebesar 62% sedangkan sisinya ditentukkan oleh faktor lain diluar kegiatan promosi.
            Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh promosi yang dilaksanakan di SMK JAYAWISATA-2 dikatakan cukup berhasil terbukti dari peningkatan jumlah siswa yang terjadi dari tahun ke tahun dan mampu bersaing dengan ketat.

Senin, 30 April 2012

CICAK DAN PEMBURU BERITA

P

esan singkat malam tadi membuatku terhenyak. Kuraih remote televise di sebelahku. Tayangan breaking news melintas di depan mata, dengan ayahku sebagai ‘bintang utamanya’. Jas hitam andalannya, dan dasi merah yang biasa dipakaikan ibu setiap pagi, hanya tampak sekilas di tengah rubungan wartawan bak gula merubungi semut. Langkah kakinya yang panjang pun tak bisa membawanya keluar dengan cepat dari gedung Komisi Pemberantas Korupsi.
            Sementara itu, ponsel di sebelahku bordering. Dengan emosi meledak-ledak, ingin rasanya ponsel itu kubanting. Tapi urung kulakukan, dan hanya kutekan tombol off-nya.
            Aku beranjak menuju tempat tidur. Kudekap guling erat-erat. Kutarik selimut lebih rapat. Namun, mataku tidak mau menutup, dan pikiranku berkelana ke mana-mana.
            Besok pagi, wartawan pasti sudah memblokade rumahKu. Deruman bunyi klakson mobil menyesakkan kepalaku. Ibukota di pukul delapan pagi terlihat padat, menyiasakan karyawan-karyawan swasta yang berlari berkejaran dengan waktu. Sepanjang malam, bola mataku terus bergerak-gerak, tak bisa diam. Dan tadi, aku hanya bisa memejamkan mata kurang dari sejam.
            Di persimpangan jalan, mobilku berbelok pelan, memutar menuju pintu masuk lobby sebuah hotel.
            Tak ada wartawan! Untunglah!
            Salah seorang bodyguard sewaan ayah mendekap dan mendorongku masuk ke dalam hotel, menuju sebuah lift yang langsung terbuka. Lift itu langsung menaikkanku ke lantai atas. Entahlah, tapi aku berharap lift bisa membawaku naik terus, hingga ke bulan.
            Di sofa kamar, ibuku duduk dalam diam. Matanya sembab, walau kutahu dia berusaha menutupinya dengan concealer.
            “Maaf soal ini, ya, Wari,” ucapnya pelan dengan senyum terpaksa.
            “Kenapa Ibu harus minta maaf?”
            “Soal ayahmu.”
            Diam memerangkap kami lagi sebentar.
            “Bu, apa Ibu percaya ayah melakukan hal itu?”
            “Wari, Ibu kenal ayahmu sejak puluhan tahun lalu. Ibu tahu benar siapa dia, dan bagaimana sifatnya.”
            Ibu beranjak menuju jendela dan menyentuhnya, menatap mentari yang sedang naik menghiasi atmosfer kelabu Jakarta.
            Kupeluk ibu, dan perlahan berkata, “Aku juga percaya ayah, Bu.”
            “27 message received, “begitu bunyi teks yang muncul di layar ponselku. Lima pesan di antaranya adalah undangan wawancara dari berbagai media. Sisanya ucapan semangat dari teman-teman sekolah.
            Tiba-tiba sebuah nomor tak dikenal memanggil.
Aku agak ragu untuk menjawabnya.
            “Ya, halo?”
            “Halo. Dengan Mbak Prameswari?”
            Sial. Firasatku benar. Suara tegas seorang wartawan. Kuputus sambungannya. Biar saja, silakan mereka koar-koar di media bahwa anak jajaran atas KPK tidak sopan karena mematikan telepon tiba-tiba.
            Mobil APV yang kutumpangin akhirnya berhenti di depan kantor kepolisian. Dini hari, masih jam dua. Pucuk daun pun tak tampak. Tapi hanya inilah waktu yang pas. Saat wartawan tidak dalam energy tertingginya.
            Kulangkahkan kaki ke luar. Dengan bodyguard yang sama saat aku baru tiba di ibukota, aku dilindungin dan masuk ke kantor polisi itu. Remang-remang, dengan lampu neon yang menguning, aku menelusuri selasar kantor bernuansa krem.
            Ibu sepertinya tertahan di luar. Wartawan tampaknya sudah menyadari keberadaan kami. Sengaja aku disuruh masuk duluan, supaya aku tak jadi mangsa mereka.
            Di persimpangan selasar di depan, aku berbelok, dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Napasku tertahan, melihat seorang duduk di sana. Matanya kuyu, dan bajunya tak serapih biasanya.
            Kami berbasa-basi, tapi tak yakin juga bahwa ini waktu yang tepat untuk berbasa-basi. Semakin lama aku mengobrol dengannya, makin deras air mataku jatuh. Terisak bermenit-menit hingga akhirnya ibuku tiba di ruangan yang sama.
            Yang aku tangkap hanyalah aku akan libur dari sekolah, dan pengakuan ayahku bahwa beliau tak bersalah.
            Deringan ponsel lagi-lagi membangunkanku di waktu matahari masih menanjak naik. Kulihat nomor asing itu lagi. Si wartawan tak tahu malu. Kubiarkan saja. Biar dia lelah sendiri.
            Tapi, dia malah mengirimiku SMS. Masih mengenai izin untuk wawancara. Hampir merepet aku karenanya. Kubiarkan lagi. Peduli setan dengannya.
            Bunyi bel kamar terdengar nyaring di telingaku. Aku bangkit dan mengintip siapa yang ada di depan pintu.
            Ibuku.
            Kubuka pintu lebar-lebar, membiarkan beliau masuk.
            “Wari, apa kamu sudah sarapan? Mau sarapan dibawah atau disini saja?”
            Ibu mengangkat telepon di sampingku, memesan makanan. Aku masih duduk diam, kepalaku pusing, dan mataku berat.
            Bellboy sudah datang dan mengantarkan beberapa makanan yang luar biasa untuk pagi itu. Aku hanya berdecak, semoga saja ayah bisa segera merasakan makanan seperti ini.
            Sorenya, ibuku dipanggil Polisi untuk dimintai keterangan. Aku sendirian di hotel. Melihat-lihat, apa kiranya yang bisa kulakukan. Awalnya, aku cukup puas melihat ibukota dari balkon kamar, tapi lama-lama aku bosa juga.
            Kulihat, birunya kolam renang di bawah cukup menggoda. Segera kuambil peralatan yang kubutuhkan, dan turun ke lantai paling bawah. Gagasan berenang sudah membuatku segar bahkan sebelum aku menceburkan diri.
            Sore itu kuhabiskan dengan berenang. Sementara itu, si bodyguard tetap berjaga di sekeliling kolam. Dalam keadaan seperti ini, ibu tak akan membiarkanku sendiri di tempat umum.
            “Hei, Om!” Yang dipanggil hanya melirik. Ragu apakah aku benar-benar memanggilnya.
            “Iya,Om Bodyguard ! Ke sini!” Dia beranjak dari tempat duduknya di pinggir kolam.
            “Maaf. Ada apa?” tanyanya pelan.
            “Bisa kau carikan aku keripik kentang?”
            Mukanya mulai meragu. “Err, di sini tak ada yang menyediakan makanan seperti itu.”
            “Tapi di minimarket sebelah hotel ada.”
            “Mmm, ya. Apa aku harus mencarinya?”
            “Tentu. Dengan beberapa kaleng soda, dan keripik lainnya. Bisa?”
            Mukanya berubah. Optimis. “Tentu bisa.”
            “Baiklah. Sambil menunggu, aku akan meneruskan berenang di sini. Tapi, bisa kau pakai uangmu dulu ? aku tak membawa uang, soalnya.”
            “Tentu.” Dan bodyguard itu pun menghilang. Aku tersenyum, lalu segera bangkit dari kolam, mandi dan berpakaian sekenanya. Sementara bodyguard itu masih tak tampak, aku melarikan diri ke luar hotel. Mencari angkutan umum, dan naik.
            Mentari sore makin menggelincir, seolah-olah berkata, welcome to the jungle.
            Sumpah, kunjunganku ke ibukota bisa dihitung dengan jari. Saat karyawisata ke Dufan, dan saat pelantikan ayahku. Aku pun tak tahu persis di mana tempatku menginap, dan daerah-daerah sekitarnya. Termasuk daerah ini.
            Busway meluncur tersendat di tengah jam pulang warga ibukota. Macet luar biasa. Saat bus itu berhenti di halte berikutnya, aku segera turun. Uangku sudah menipis, dan aku tak tahu di mana aku berada. Hape pun aku tinggal. Tapi itu cukup untuk membayar senyumku hari itu. Aku sudah terlalu lelah beberapa waktu belakangan.
            Aku pun menanyakan orang-orang sekitarku arah menuju Monas. Dan aku berhasil tiba disana saat langit sudah gelap. Tak tahu berapa langkah telah kubuat. Aku berjalan masuk, dan duduk di pinggir taman. Ternyata Monas memang tinggi, gumamku.
            Tak beberapa jauh dariku, ada seorang lelaki muda duduk dan mendesah pelan. Mungkin pergi ke Taman Monas adalah ritualnya saat gundah. Kudekati, dan kutanya.
            “Maaf. Saya memang orang asing. Anda kelihatannya ada masalah. Bisa saya bantu?”
            Mukanya kaget sebentar. “Ha ha, tidak ada apa-apa. Sudah makan ?”
            “Belum sih, tapi aku tak punya …”
            “Ayo, kita makan. Kutraktir.”
              Gagasan ditraktir oleh asing harusnya membuatku was-was. Tapi, aku toh ikut juga dengannya. Dan aku tak ingin memikirkan bagaimana perasaan ibu yang mencariku. Cara pulang dan kemarahan beliau, urusan nanti. Yang penting aku makan dulu.
            Soto di warung tenda menguarkan aroma yang tak dapat kutolak. Aku seperti orang kelaparan di hadapan lelaki itu. Kalap, dengn sendok yang kuisi penuh. Tak sampai lima menit, makananku sudah habis, padahal namanya pun aku tak tahu.
            ‘Terima kasih,” ucapku sambil meneguk teh hangat.
            Dia tertawa sendiri. “Kamu seperti anak hilang.
Namamu siapa?”
            “Tyo. Terima kasih kembali karena menemaniku makan. Sekolah?”
            “Ya. SMA di Bandung.”
            Dia kaget sendiri. “Aku juga SM di Bandung.
Kuliah di UI, dan sekarang freelance.”
            “Wah, hebat!” Aku terkagum-kagum.
            “He he. Tapi begini-begini, aku masih 20 tahun,
Lho. SMP dan SMA-ku aksel.”
            Aku tambah bengong. Lalu kami bercerita-cerita.
Hingga malam melarut.
            Dia mengantarkanku kembali ke hotel debgab motor bebeknya. Saat aku turun dan mengembalikan helmnya, dia bertanya, “Boleh minta nomor hapemu?”
            Aku tersenyum dan kuketikkan nomorku. Saat akan di-save, muncul kaa-kata ‘This concact already exists.’
            Aku kaget, dan mencoba melihatnya.
‘Prameswari-putri pejabat’, begitu namaku tertera.
Aku tersenyum simpul dan mengembalikan hapenya.
Ternyata wartawan itu.
            “Kebetulan sekali. Aku ingin mengonfirmasi bahwa aku tak ingin diwawancarai. Ayahku memang tak bersalah, dan waktu akan membuktikannya,”
Ucapku pelan.
            Aku berjalan menuju hotel yang tinggal beberapa langkah lagi. Kulihat wajahnya pias dan pucat tak percaya, serupa purnama di puncak langit sana.